RESENSI : GURU AINI



Judul Buku                   :  Guru Aini
Penulis                           :  Andrea Hirata
Penerbit                        :  Bentang Pustaka
Tahun Terbit                :  Cetakan I, Februari 2020
Jumlah Halaman        :  Xii + 336 halaman ; 20,5 cm
ISBN                               :  978-602-291-686-4


Resensi :

Antara Impian dan Realitas
Novel “Guru Aini” merupakan karya yang ditulis oleh Andrea Hirata mampu menginspirasi bagi banyak orang khususnya setiap para pembaca. Novel yang terdiri atas 25 sub judul yang dibuka dengan sebuah kalimat persembahan buat seorang guru yang telah memberikan keteladan dan sumber inspirasi tulisan, kemudian dilanjutkan dengan sebuah puisi yang sarat dengan sebuah makna yang dalam.
“Novel ini kupersembahkan dengan segenap hormat dan rasa kagum untuk Ibu Guru Marlis, seorang perantau ulung, seorang guru yang hebat.”
“Dalam desau sepi angin pagi, dalam gerimis hujan dini hari, dalam gerak – gerik halus benda-benda, dalam harapan – harapan yang tak terkata, Tersimpan rahasia, mengapa kita ada”.
Setiap lembarnya dalam novel ini memberikan kesan yang berbeda, mulai dari rasa kagum pada setiap kata yang dituliskan, rasa senang, tertawa, bahkan rasa sedih yang menyatu dalam setiap kisah yang disajikan. Banyak tokoh yang diangkat dalam kisah ini, mulai dari tokoh pendidik yaitu Amanah, Desi Istiqomah, Abnu, Afifah, Laila, Syaifulloh, dll. Tokoh yang diperankan siswa yaitu Debut, Nuraini, Enun, Sa’diah, Djumiatun, Nadirah, Jafar, dll. Serta tokoh lainnya yang ditampilkan sekilas. Tetapi tokoh yang paling menonjol adalah Desi Istiqomah atau guru Desi dan Nuraini yang disapa dengan Aini.  
Bermula dari seorang siswa bernama “Desi Istiqomah” yang merupakan siswa cerdas di Sekolahnya yang sebentar lagi akan menyelesaikan SMA. Siswa cantik dengan tinggi semampai dan juara renang serta ada bekas 3 jahitan dikeningnya tidak menutupi cantik alami pada dirinya. Desi Istiqomah yang biasa di panggil desi merupakan keluarga yang berkecukupan dan merupakan siswa lulusan terbaik. Ia hanya ingin menjadi guru matematika meskipun harus di tempatkan di pelosok. Keinginannya yang kuat tak tergoyahkan diwariskan dari sifat ayahnya. Pilihannya sebagai seorang guru matematika tidak bisa ditawar lagi, sejak ia berjumpa dengan Bu Guru Marlis, Kelas 3 SD dulu. Baginya menjadi guru matematika adalah alasan mengapa di dunia ini kita ada. Berbagai cara pun dilakukan Bu Amanah guru di sekolahnya yang berusaha membujuk Ibunya agar ia mau memilih jurusan lain seperti kedokteran, insinyur, sarjana hukum, sarjana ekonomi, asalkan bukan guru matematika (halaman 1).   
Keinginannya menjadi seorang guru matematikan tidak bisa ditukar dengan apapun jua. Termasuk bujukan dari guru dan ibunya yang mengharapkannya untuk mengubah mimpinya menjadi seorang guru matematika. Hanya sang ayah yang selalu senantiasa mendukung setiap keputusannya. Namun apa boleh buat, dia ingin jujur pada dirinya sendiri, bahwa yang paling diinginkannya adalah menjadi guru matematika yang mengajar anak-anak miskin di pelosok. Dia tak mau menukar mimpinya itu, dia tak ingin menjadikan hal lain, seindah apa pun hal itu berjanji.” (halaman 7).
Baginya menjadi guru bukanlah sebuah pilihan tetapi merupakan panggilan jiwa. “Kita akan kesulitan memajukan pendidikan jika seseorang ingin menjadi guru sekadar untuk mencari nafkah”. (Halaman 8)
Pendirian yang kokoh seorang Desi tidak hanya serta merta saat ia bercita-cita menjadi guru matematika, tetapi saat ia diberikan pilihan ketika menuntaskan studinya di pendidikan matematika. Keistimewaan yang ia dapatkan karena menjadi mahasiswa cum laude di kampusnya sehingga diberikan pilihan untuk memilih lokasi penempatan sesuai yang di inginkan. Tetapi ia menolak dan bergabung bersama teman-temannya untuk cabut undian pada lokasi penempatan. Awalnya ia mendapatkan lokasi di Bagansiapiapi, kemudian ia berikan pada sahabatnya Salamah yang bersedih di tempatkan di pelosok Pulau Tanjung Hampar. Pulau yang terletak di pelosok membutuhkan waktu tempuh enam hari enam malam dengan silih berganti kendaraan baik darat maupun laut silih berganti.
Inspirasi dari seorang Bu Guru Marlis sangat membekas dalam memorinya bahwa matematika adalah sumber dari segala ilmu yang memberikan berbagai hal yang bisa menyelesaikan permasalahan kehidupan. “Matematika adalah salah satu ilmu yang paling banyak memecahkan misteri. karena matematika dapat mengubah peradaban”. (Halaman 18)
Keinginan dan tujuannya menjadi guru matematika ingin mengubah bahwa matematika bukanlah sesuatu yang lahir dengan sendirinya ataupun bakat tetapi matematika haruslah dibentuk. Meskipun ia tahu bahwa dengan menjadi seorang guru matematika ia tidak akan pernah kaya dan takkan selalu mendapatkan kesenangan dengan menjadi guru, namun akan sangat bahagia. (Halaman 25).
Dalam novel ini penulis berhasil membangun karakter seorang guru khususnya guru matematika melalui karakter tokoh Desi yang sangat memiliki prinsif yang teguh pada pendiriannya bahkan sangat idealisme dan tidak diperjualbelikan dengan kesenangan dan imingan penghargaan apapun. Hal unik yang melekat dalam dirinya adalah ia memiliki sumpah sepatu. Ia tidak akan mengganti sepatunya sampai menemukan sosok anak jenius sesuai harapannya, sehingga gelar guru nyentrik, aneh, gila, dan lainnya melekat pada dirinya. Tetapi ia tidak peduli dengan semua itu, yang ia pikirkan adalah idealisme dan kenyakinan serta harapannya. “Sebagai guru, dia memahami psikologi pendidikan bagi anak kampung. Kemiskinan dan kepercayaan diri yang rendah membuat mereka selalu merasa hal-hal akademik yang hebat akan selalu menjadi milik orang lain, milik orang kota, miliki anak-anak orang kaya di sekolah-sekolah hebat. Mereka selalu memerlukan contoh nyata, dari kalangan mereka sendiri. Dalam pemikiran Guru Desi, jika dia berhasil menemukan dan mendidik seorang anak Kampung Ketumbi menjadi genius matematika, maka anak-anak Kampung Ketumbi lainnya akan melihat bahwa mereka pun bisa meraih sesuatu yang selalu mereka bayangkan tak mungkin dapat mereka raih. Maka ini bukan melulu soal matematika, ini soal keberanian bermimpi. Untuk Desi berjanji pada dirinya sendiri, ia mengangkat semacam sumpah sepatu, bahwa dia akan terus memakai sepatu olahraga pemberian ayahnya sampai anak genius matematika itu ditemukannya” (halaman 50).
Idealisme yang dipegangnya sangat mempengaruhi semangatnya dalam mengajar. Semua kisah perjuangan baik semangat dan rasa sedihnya hanya Laila tempat ia bercerita. Laila guru matematika di SMP, sedangkan ia mengajar di SMA. Guru Desi terkenal sadis dan tak pandang bulu dengan siapapun dalam menyampaikan pendapat dan kebenaran yang ia pahami. Termasuk kepada setiap murid yang belajar dengannya benar-benar ia terapkan prinsifnya, ia tidak pernah berbicara di belakang untuk menyampaikan sebuah kesalahan. Guru Desi pernah menemukan seorang murid jenius matematika, yang bernama Debut Awaludin. Sayangnya pilihan hidup Debud tidak sebanding dengan pemikiran jeniusnya yang ia miliki. Semangat belajarnya yang rendah dan kepeduliannya terhadap rombongan 9 (terdiri dari Dinah, Handai Tolani, Tohirin, Honorun, Sobri, Rusip, Salud, Nihe, dan Junilah) memutuskan ia bergabung dengan kaum marginal. Padahal Guru Desi memiliki mimpi untuk mengangkat anak-anak kampong dari tangannya agar dikenal. Guru Desi sangat terpukul bahkan menyesal dengan keputusan yang diambil oleh Debud, padahal ia sudah mempersiapkan satu meja khusus di rumahnya untuk Debud belajar matematika. Sejak saat Debud memutuskan bergabung dengan rombongan 9 dan berhenti belajar matematika membuat Guru Desi jadi lebih sensitif, strict, intense. Kekecewaan mendera dalam dirinya, tetapi semangatnya tidak pernah padam dalamhatinya untuk menemukan siswa genius dalam matematika. “Memintarkan seorang murid cukup untuk membuat batin seorang guru tertekan, namun murid yang sudah pintar dan mengabaikan kepintarannya, akan memukul perasaan seorang guru dengan kegetiran yang tak dapat dimengeri siapa pun.” (halaman 66)
Idealisme yang dibangun pada tokoh bernama Desi Istiqomah oleh penulis memberikan gambaran karakter yang kuat yang dipegang oleh Guru Desi.  Beberapa tawaran menarikpun pernah menghampirinya sebagai seorang guru matematika dan penghargaan guru berprestasi pun pernah ia tolak karena belumnya ia menemukan sosok murid genius yang bisa ia bentuk pada bidang matematika yang diajarkannya. Hingga sahabatnya Laila bertanya padanya, “Tak pernahkah kau lelah menjadi idealis, Desi?“ Lelah, Laila, tapi tanpa idealisme, aku akan lebih lelah. Tanpa idealisme, orang akan hidup dengan menipu dirinya sendiri, dan tak akan ada yang lebih lelah dari hidup menipu diri sendiri.” Pernahkah terpikir menekuni bidang lain selain matematika? “Aku bukan Desi, tanpa matematikaku.” (halaman 68)
Hingga ia dihadapkan pada seorang siswa yang bernama Nuraini binti Syafrudin, atau dikenal dengan Aini yang ingin menjadi siswanya. Pindahan dari siswa Guru Tabah di kelas lain. Aini sosok yang histeriak bagi Guru Desi dan menderita psikosomatis yang secara tiba-tiba mengalami sakit perut jika dihadapkan dengan matematika. Murid yang dikenal di sekolah paling bodoh dan selalu menempati posisi terakhir setiap pengambilan hasil ujian. Nilai yang ia dapatkan tidak pernah bergeser dari bilangan “biner” 1 0 1 0 yang biasa dipakai dalam bahasa komputer. Aini dalam setiap ujian hanya mampu menjawab 1 soal saja. Hebatnya, Aini tidak pernah menyontek dalam ulangan bahkan ia tidak tahu bagaimana cara menyontek.
Keinginannya yang kuat belajar dari Bu Desi membuatnya pindah kelas hanya ingin belajar matematika dari ahlinya. Menurutnya, belajar dari ahlinya lah matematika bisa dikuasai. Meskipun ia tahu Guru Desi orang yang tidak suka dengan murid pemalas dan berbasa basi jika berkata dan bukan perkara mudah bisa pindah ke kelas Bu Desi. Guru Desi tidak serta merta menerimanya “Ada tiga cara untuk mempersulir diri sendiri di sekolah ini,“Pertama, masuk ke kelasku. Kedua, belajar matematika. Ketiga, belajar matematika dariku.” (halaman 110)
Keinginannya yang kuat untuk pindah kelas saat Aini dihadapkan dengan ayahnya yang sakit dan terbaring di rumah hingga ia pun merawatnya sampai ia tidak naik kelas karena absen sampai 7 bulan. Ketika Enun dan Sa’diah naik kelas yang merupakan geng Aljabaria, Aini harus sabar tinggal kelas di kelas 1 SMA. Harapan yang besar seorang Aini pindah kelas dan menjadi seorang dokter karena profesi dokter baginya harus mampu menguasai matematika. Matematika mampu menyelesaikan permasalahan kehidupan termasuk dengan sakit Ayahnya jika ia menjadi seorang dokter.
Karakter tokoh yang dibangun pada siswa bernama Aini memberikan gambaran yang kuat untuk menjadi sukses harus tahan banting dengan berbagai kondisi. Di sinilah karakter tokoh Aini mengambil peran bagaimana ia membangun mimpi dan cita-citanya menjadi seorang dokter agar ia mampu mengobati dan menyembuhkan sakit yang diderita ayahnya. Ia pun menuliskan pada dengan kalimat “Aini Cita-Cita Dokter” hingga orang kampung pun tahu dengan Aini yang bercita-cita menjadi dokter.  Tanpa idealisme, matematika akan menjadi lembah kematian pendidikan,” kata Guru Desi.
Kisah yang terbangun indah antara Guru Desi yang genius, eksentrik dan cerdas dengan siswa Aini yang mendapatkan nilai matematika tidak pernah bergerser dari bilangan biner 1 0 1  0 memberikan keteladanan dan idealisme seorang guru matematika yang sangat memegang teguh pendirian, idealisme, dan prinsifnya. Ia tidak haus dengan pujian, jabatan, bahkan penghargaan yang diidamkan setiap guru pun ia tolak sebagai guru berprestasi. Karakternya yang kuat terbangun dalam diri seorang Desi tidak datang dengan sendirinya tetapi penempaan hidup di keluarga, keteladan sosok ayah, dan hobinya dalam membaca buku membentuk pribadinya menjadi guru yang berkarakter yang sangat disegani oleh teman-teman seprofesinya akan keidealismean sebagai seorang Guru. Ia tidak pernah menukarkan apa yang ia pahami dan idealism yang sudah melekat dalam dirinya dengan apapun jua termasuk berbagai pernghargaan yang diberikan kepadanya.
Guru Desi ingin memberikan yang terbaik bagi generasi bangsa melalui profesi yang disandangnya sebagai guru matematika. Ia sangat menanamkan kejujuran melebihi dari apapun jua dalam hidup kepada siswanya. Tujuannya ingin ada siswa-siswa yang tumbuh, menyukai matematika sebagai bagian bidang yang mampu menuntaskan segala permasalahan. Sehingga ia sendiri bersumpah tidak akan mengganti sepatunya sampai ia menemukan sosok siswa genius yang ia impikan. Sementara Aini sosok siswa yang penuh semangat ketika dihadapkan dengan sakitnya seorang ayah, membuatnya ingin berubah menjadi siswa yang bisa menguasai matematika sampai ia bisa mencapai cita-citanya sebagai seorang dokter. Semangatnya yang tidak pernah putus asa, mentalnya yang kuat meskipun berbagai dampratan dan kata-kata tegas dari gurunya tidak menyurutkan semangatnya untuk belajar matematika. Perjuangannya dapat dilihat bagaimana setiap harinya ia belajar dengan guru Desi meskipun dicaci dan direndahkan tetapi mentalnya dan keinginannya yang kuat membuatnya diterima oleh Guru Desi.
Pembelajaran yang ingin disampaikan dalam novel ini melalui karakter seorang siswa bernama Aini memberikan pesan bahwa untuk mencapai sesuatu harus dengan kerja keras dan upaya yang kuat. Tidak ada yang tidak bisa diubah sekalipun dengan nilai bilangan biner, jika niat, komitmen, dan semangat dimiliki maka semua bisa diubah. Buktinya Aini akhirnya mendapatkan apa yang ia inginkan sebagai siswa berprestasi dan memiliki nilai sempurna “10” saat ujian kelulusan sekolah.
Namun sayangnya impian tidak sesuai dengan realitas yang ia dapatkan. Kecerdasan, semangat dan kerja kerasnya harus terpental ketika ia sudah meraih keinginannya lolos di Perguruan Tinggi Fakultas Kedokteran  di Palembang dengan jalan seleksi mahasiswa ia dinyatakan lulus. Tetapi ketika kelulusannya ia tidak mampu membayar uang awal sebagai tanda masuk menjadi mahasiswa membuatnya harus kembali ke tanah kelahirannya. Impian tidak selalu berbanding lurus dengan realitas yang dijalani. Kisah dalam novel ini ingin memberitahukan bahwa tidak hanya kecerdasan, kerja keras, disiplin waktu yang bisa menyampaikan seseorang untuk memperoleh apa yang diinginkan. Tetpai fakta relaitas sesungguhnya banyak dihadapi oleh anak-anak cerdas harus menguburkan mimpinya karena masalah biaya. Inilah yang harus menjadi perhatian bersama khususnya pemerintah. Novel ini juga ingin menyampaikan kepada setiap orang bahwa kerja keras bisa mengubah sesuatu yang mustahil menjadi mungkin dan akan terjadi. Semua dibutuhkan dengan semangat, disiplin waktu dan tekad yang kuat.
Beberapa hal yang sangat menarik selain kisah yang dibangun pada novel ini sangat sempurna dengan alur kisahnya yang sangat menginspirasi. Desain cover yang sederhana dengan dua buah sepatu yang menggantung dengan warna yang cerah ingin menyampaikan sosok seorang Guru Desi Istiqomah sesuai dengan namanya Istiqomah punya janji terhadap sebuah sepatu yang diberikan ayahnya tidak akan ia tukar sampai ia menemukan siswa genius. Desain sepatu juga menggambarkan akan dunia pendidikan yang ingin disampaikan oleh penulis terhadap realitas yang sesungguhnya. Judulnya “Guru Aini” mengisahkan tentang realitas dunia pendidikan melalui sosok guru hebat dan sosok seorang siswa yang memiliki mental yang tangguh dan tidak pernah menyontek hanya ingin bisa menguasai matematika agar ia bisa menjadi seorang dokter. Sangat langka novel yang bercerita tentang dunia pendidikan, apalagi dibungkus dengan bahasa yang asyik dan menarik dan sangat dramatis dan komplet serta sangat menginspirasi bagi dunia pendidikan.Novel ini sangat kuat pesan moral dan nilai-nilai edukasi yang ingin ditonjolkan oleh penulis dengan karakter Guru Desi yang mengajar di daerah pelosok atau 3T yang semangatnya tidak padam meskipun harus di daerah terpencil. Novel ini sangat dramatis dan dibumbui dengan humor-humor yang mendidik dan membangkitkan semangat dengan upaya perjuangan setiap tokoh yang ditonjolkan.
Novel ini sangat memberikan semangat dan karakter yang kuat bagi seorang guru yang harus dimiliki oleh setiap guru ketika memilih profesi sebagai seorang guru maka semua konsekuensi dan hal yang membersamainya harus menjadi penyemangat bukan pelemah dalam mendidik. Pesan moral dan nilai-nilai edukasi yang disampaikan sangat kental sehingga setiap guru dan siswa harus membaca buku ini. Khususnya guru matematika dan guru yang mengajar di pelosok hendaklah semangat yang ada sama dengan semangatnya Guru Desi Istiqomah. Hanya saja dalam novel ini tidak dijelaskan bagaimana kondisi Desi Istiqomah selama berada di Perguruan Tinggi. Novel ini hanya menggambarkan setengah halaman tentang kuliah atau dua paragraf saja. Kemudian tokoh Annisa yang dimunculkan 

Guslaini, S.Si., M.Pd.

Guslaini, lahir di Tembilahan, 16 Agustus 1982. Penulis yang berprofesi sebagai guru SMPN 4 GAS Kab. Indragiri Hilir Prov. Riau yang juga sebagai penggiat literasi di Kab. Inhil. Keinginannya mampu menjadi guru penulis yang bisa memberikan nilai-nilai kebaikan bagi setiap pembaca melalui tulisan yang saya. Sebab bagi saya menulis menjadi media terbaik dalam menyebarkan kebaikan pada orang banyak.
     Telp/WA : 0813-6440-1070




Komentar