Adzan subuh bersahut dengan desir angin dari pelepah rumbia dan aroma tanah basah seusai hujan masih menggantung di udara, di tanah Melayu yang tenang—di mana terhampar kampung kecil bernama Teluk Kembang Jaya. Sungai Siak yang beriak pelan di tepian, hiduplah seorang anak lelaki bernama Zahran Ibnu Zainal. Baru dua belas tahun umurnya, namun tutur katanya seteduh pagi, dan langkahnya seteguh akar lalang rumbia—liat, sederhana, tapi tak mudah tumbang. Warga menyebutnya anak lalang rumbia—anak yang tumbuh dalam kesahajaan, namun menyimpan kekuatan yang tak banyak terlihat
Sebelum ayam berkokok dan cahaya subuh menyentuh tanah, Zahran telah berdiri di surau bersama ayahnya, Pak Zainal—guru mengaji kampung yang rendah hati. Usai sholat, ia menyapu halaman, lalu menuju sungai membawa ember kosong.
“Mak, air sungai dah jernih. Bisa kita masak pagi ni,” ucapnya, peluh masih membasahi dahinya.
“Alhamdulillah, Nak. Ringan tangan betul engkau... macam Abah waktu muda,” jawab sang ibu, menyembunyikan letih di balik senyumnya.
Zahran tak duduk di barisan depan ketika berada di sekolah, tapi dialah yang paling sering disapa guru. Bukan karena nilainya paling tinggi, tapi karena sikapnya yang sopan dan lidahnya tak pernah menyakiti—sebagaimana petuah ayahnya: “Ilmu itu cahaya, Nak. Dan mulut yang kotor hanya akan meredupkannya.”
Satu petang selepas hujan, ketika langit kampung masih menyimpan kilat samar, Zahran duduk bersila di beranda. Pak Zainal menyalakan pelita, lalu duduk di sampingnya.
“Zahran, Ayah tak mewariskan emas atau tanah. Tapi ada tujuh amanah dari datukmu yang kini Ayah titipkan padamu.”
Zahran menoleh, matanya serius.
“Apa dia, Yah?”
Pak Zainal menyentuh pundaknya lembut.
“Bangunlah pagi sebelum matahari naik. Jaga sembahyangmu, itu tiang hidup. Gerakkan badanmu—biar sihat dan cerdas. Makan yang halal dan bergizi, jangan asal kenyang. Rajin baca dan belajar, kerana ilmu itu pelita. Bertemanlah, bantu tetangga, jangan jadi anak yang sombong. Dan malam, tidur cepat, supaya esok tak tinggal subuh.”
Ia menatap anaknya penuh harap.
“Kalau engkau jaga tujuh ini, insyaAllah hidupmu akan terang, walau dunia sedang gelap.”
Zahran tersenyum dan mengangguk.
“Zahran janji, Yah. Akan Zahran simpan semua itu. Macam pusaka yang takkan hilang.”
Pelita di sudut beranda terus menyala, menjadi saksi warisan hidup yang berpindah dalam diam—dari ayah ke anak, dari hati ke hati.
Esok harinya, Zahran membantu Munir, sahabat yatimnya, memperbaiki sepeda tua yang nyaris patah. Bukan menertawakan, ia justru mengajarkan cara membuat dinamo dari besi bekas.
“Kalau kita pandai akal, miskin pun tak malu,” kata Zahran sambil mengetuk paku dengan batu.
“Kau ni macam orang tua saja. Tapi betul, merdeka itu bukan cuma dari penjajah, tapi dari malas dan putus asa,” sahut Munir, tersenyum.
Zahran mengangguk pelan. Ia tahu, kemerdekaan bisa dimulai dari hal kecil: menolong, dan memerdekakan temannya dari keterbatasan.
Dalam perayaan 17 Agustus, Zahran maju ke panggung beralaskan tikar pandan dan diterangi lampu petromaks. Dengan kopiah hitam dan baju kurung lusuh, ia menyuarakan tema: Anak Kampung, Harapan Indonesia Bedelau.
“Kami bukan anak kota, bukan anak kaya. Tapi kami anak Melayu, cinta tanah air, pandai menanam iman dan ilmu. Merdeka bukan hanya pekik, tapi kerja, doa, dan hati yang bersih.”
Malam itu, sorak-sorai tak berhenti—bukan karena pidatonya sempurna, tapi karena Zahran menyuarakan suara anak-anak kecil yang menyimpan mimpi besar di dada sederhana mereka.
Zahran menumbuhkan tujuh warisan itu dalam tiap langkah hidupnya—saat menyapu surau, membantu warga, membaca kitab lama peninggalan Ayahnya, atau memimpin doa bersama teman. Ia merawat nilai-nilai itu layaknya lalang rumbia: tumbuh di tanah sederhana, tapi memberi manfaat di setiap helai hidupnya.
“Ayah, Zahran ingin jadi guru seperti Ayah. Biar warisan ini bisa Zahran tanam ke banyak anak kampung,” ucapnya suatu malam.
Pak Zainal tersenyum, matanya menatap langit yang bertabur bintang.
“Kalau engkau jadi guru yang lurus dan ikhlas, Nak… engkau bukan lagi anak lalang rumbia. Engkau sudah jadi tiang negeri.”
***
Bionarasi :
Guslaini, S.Si., M.Pd.
Pengawas Sekolah SMP di Dinas Pendidikan Kabupaten Indragiri Hilir. Saat ini ia sedang
menuntaskan studi doktoral Manajemen Pendidikan di UNY melalui Beasiswa Pendidikan Indonesia (BPI).
Masih aktif menulis disela sela kesibukannya menempuh pendidikan.
Kontak: bagoest.hamied1982@gmail.com | WA: 082170852136.
Video Pembacaan "Anak Lalang Rumbia dan 7 Warisan Merdeka"
saat launching Buku "Menguatkan 7 Kebiasaaan Anak Indonesia Hebat"


Komentar